life · Pregnancy

Obgyn dan RS(IA)

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

Hampir sebulan ya semenjak A ikut ‘menulis.’ Kali ini, ibunya lagi yang berbagi cerita.

Sebagai first-time-mother (FTM) yang ingin sekali menjalani masa kehamilan dengan bahagia dan sehat, saya tentunya ingin didampingi dengan health provider yang profesional dan mengerti ‘apa yang saya mau’. Terlebih lagi untuk obgyn, saya pilih yang dapat memberikan energi positif dan bisa dengan nyamannya berkomunikasi dengan beliau. Iya dong, wong beliau yang akan terlibat selama antenatal, natal dan (sedikit) saat post-partum. Kalau kenyamanan aja ga ada ya gimana mau bermitra selama masa kehamilan.

Sebenarnya dari sebelum hamil, saya sudah membuat daftar calon obggyn. Dibuat berdasarkan review dari ibu-ibu hamil yang dapat dengan mudah dicari di dunia maya dan komentar dari teman-teman dekat yang sudah lebih dulu melahirkan. Karena saya (sampai saat ini) berencana untuk melahirkan secara normal, obgyn-obgyn yang sudah terkenal sabar menunggu pembukaan (yang wallahualam bisa lama atau cepet) dan super pro-normal menjadi top list saya.

Prasyarat keduanya adalah menganut prinsip rational use of medication (RUM). Saya paling anti mengkonsumsi obat-obatan. Bagi saya, tubuh manusia itu cerdas dan mampu mengobati dirinya sendiri jika memang ada disfungsi atau ya penyakit yang hinggap. Jadi ya obat adalah pilihan terakhir. Masih bisa pakai natural home remedy juga, kan? saya males banget deh kalau sedikit-sedikit langsung diresepi obat padahal belum tentu diperlukan banget, belum lagi dampak buruknya kepada janin.

Nah dari dua kriteria obgyn di atas, saya juga sekalian cari-cari rumah sakit bersalin. Saya pribadi ingin melahirkan di rumah sakit khusus ibu dan anak dengan anggapan bahwa mereka akan lebih fokus dalam menangani persalinan. Di Jakarta sendiri alhamdulillah sudah banyak pilihan RSIA yang bagus-bagus. Tinggal tunjuk aja yang sesuai dengan pertimbangan masing-masing ibu. Kalau saya pribadi, milih rumah sakit yang mengizinkan bayinya rooming in dengan ibu daaaan, ini penting, penting banget, pro IMD, pro ASI dan anti-susu formula. Meskipun obgynnya oke tapi pas lahir anak saya nanti langsung dikasih susu formula dengan berbagai alasan, definitely not an option for me. Duh, enggak deh. Makanya saya juga picky banget masalah RSIA. Akhirnya, saya dan suami (yang sebenernya ikut-ikut saya aja) memutuskan untuk ke Kemang Medical Care (KMC).

Despite of the distance ya, saya suka banget dengan KMC. Bersih dan nuansanya anak-anak banget 😀 Tapi ya itu, karena setelah menikah saya migrasi ke rumah suami di Jakarta Barat, jadinya ke KMC itu jauh bok! Rute paling oke ya memang lewat tol tapi kalau hari kerja sama aja macetnya. Berhubung obgyn-obgyn pilihan saya hanya praktek di KMC, jadi ga ada kata selain ke sana! Hahahaha. Saya sering ngobrol dengan A, memberi afirmasi untuk melahirkan normal daaaaan…. “kalau sudah mau keluar, kasih tau ibu ya, supaya ibu bisa bilang ayah. Keluarnya, kalau ibu boleh minta tolong, pas ayah ada di rumah dan jalanan gak macet ya. Boleh ya? Terima kasih, anak ibu!” Hahahaha. Semoga lahir pas ada ayahnya dan jalanan gak macet. Suami saya yang pola kerjanya 2minggu-2minggu ini udah mulai atur-atur jadwal supaya bisa ada di rumah saat saya melahirkan. Tapi ya yang tau kan cuma Allah SWT dan si bayinya sendiri ya, makanya saya sering-sering ajak ngobrol A begitu. Hahahaha.

Sebenernya, saya sempat berpikir untuk kontrol ke RS Puri-Pondok Indah yang dekat rumah sebagai back-up plan. Tapi hati belum mau ke sana nih. Alternatifnya, suami saya bilang untuk cari hotel atau rumah yang bisa sewa beberapa hari (atau kos-kosan deh) dekat KMC. Jadi, menjelang HPL bisa hijrah ke sana. Ada rekomendasi? Bisa juga sih ke rumah orangtua saya di daerah Tebet dulu tapi suami saya milih yang paling dekat dengan KMC. Nanti deh cari-cari lagi.

RS nya udah, sekarang obgyn. Sebelumnya A sudah menyampaikan bahwa obgynnya adalah dr. Achmad Mediana. True! Bisa dibilang, pertemuan saya dengan beliau sudah ditakdirkan Allah SWT (semua pertemuan juga sudah Allah tentukan sih, haha). Jadi begini, dr. Achmad itu awalnya gak ada dalam daftar saya. Entah kenapa, kayaknya waktu research kelewat deh. Justru suami saya yang (ternyata) sudah lebih dulu tau tentang beliau (suami saya juga melakukan riset pribadinya dalam menentukan obgyn, baik ya dia, ga sih cuma termotivasi saya aja dia jadi begitu. errrr. haha). Saya ke dr. Achmad sewaktu kontrol kedua karena terlanjur bermental tiarap setelah ketemu obgyn pilihan nomer satu saya. Padahal bapak obgyn nomer satu itu idoa ibu-ibu hamil loh. Sahabat saya pun kontrol dan melahirkan dengan beliau di KMC. Namun yaaa, hati gak bisa dipaksa.

Mulai deh riset tentang dr. Achmad dan saya suka banget dengan program beliau. Termasuk obgyn senior, dr. Achmad yang percaya bahwa bayi cerdas sejak dalam kandungan bertekad untuk mengedukasi ibu-ibu hamil tentang betapa berharga dan membahagiakannya masa kehamilan itu. Untuk melahirkan generasi penerus yang oke, dimulai dari ibunya, begitu kata dr. Achmad. I totally agree with him! Makanya dr. Achmad memantau aspek gizi, kesehatan kehamilan dan kesehatan jiwa ibu selama antenatal. Dari mulai disuruh tes darah, tes urin, dirujuk ke dokter gizi, diingetin berkali-kali untuk tetap aktif, berolahraga teratur dan tentunya bahagia, semuanya dilakukan beliau. Masalah minum susu hamil, dr. Achmad tidak menyarankan namun juga tidak melarang. “Yang dicari lewat susu apa sih? Kalsium. Yowes, kamu tau alternatif sumber kalsium apa? Yowes, lakukan.” Wehehehe, saya senang banget karena memang saya anti-susu, dalam arti sebenarnya. Buat saya, susu yang manusia butuhkan ya hanya ASI. Selepas 2 tahun, insya Allah gak butuh susu sapi.

Cermat dan santai, menurut saya begitulah dr. Achmad. Pernah sekali dia bilang “kamu bebas mau ke dokter gizi mana, yang sreg di hati aja, bebas menganut prinsip pola makan apa yang penting target saya tercapai; kalsium cukup, zat besi gak kurang, semua kebutuhan nutrisi ibu dan bayi terpenuhi. Olahraga juga begitu, kamu mau jalan kaki, yoga, berenang, lakukan, asal rutin.” Wuoooh saya suka. Karena kami sevisi dan semisi, jadilah kami bermitra 😀 oya, A kecil juga menjadi mitra 😀

dr. Achmad sendiri memiliki tim yang tergabung dalam AMS (Applicative MedicalCare System atau bisa juga sih disebut Achmad Mediana System, haha) yang terdiri dr obgyn, dokter gizi, dokter umum khusus bimbingan antenatal, dr. anak dan konsultan laktasi. Mereka sering bikin acara loh. Akun medsos AMS sendiri cukup aktif, bisa dicek langsung IG nya dan FB.

Selain di KMC, beliau juga punya tempat praktek pribadi di Jalan Kemang Timur Raya No. 23, Jakarta Selatan (7195622). Saya hanya ke sana untuk prenatal yoga, belum pernah untuk konsultasi. Tempatnya nyaman dan staf nya baik. Kalau ibu hanya punya waktu di hari sabtu, saya rasa praktek pribadinya merupakan pilihan yang tepat karena di KMC, jadwal dr. Achmad dari Senin-Selasa, Kamis-Jumat pukul 08.00-11.oo. Sebagai informasi, pasiennya banyak, jadi saya sarankan ibu mereservasi dari 2 minggu atau bahkan sebulan sebelumnya kalau bisa. Hahaha. Dan jangan lupa izin datang terlambat ke kantor (kayak saya). Hahaha.

Semoga tulisan saya dapat bermanfaat 🙂

Posting selanjutnya, saya akan berbagi tentang aktivitas ‘khusus’ selama kehamilan saya dengan A. Yoga, ngobrol bareng A, pakein headset ke perut, menulis, baca dongeng,  ngisi TTS, jalan kaki, a lot of fun things! Nantikan yaaa 🙂

Semoga kita semua sehat dan bahagia.

 

Wassalamualaikum warrahmatullahi wabaraktuh.

Salam,

D dan A kecil 🙂

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s