A bit about A · Bahasa Indonesia · life · Pregnancy

Assalamualaikum, Aina

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

Semoga berkah dan perlindungan Allah menyertaimu.

Selamat memperingati Hari Lahir Kartini. Semoga perjuangannya untuk perempuan Indonesia menjadi amal jariyah untuk beliau. Di bulan kelahiran Kartini ini, saya ingin menulis sebuah pengalaman alamiah yang luar biasa indahnya. Pengalaman yang hanya bisa dinikmati perempuan. Pengalaman tentang kekuatan, kepercayaan diri, berserah, bersyukur. Tentang salah satu dari 99 Asmaul Husna. Tentang Rahim. Ya, kasih sayang.

“Kamu tahu mengapa Allah menciptakan rahim dalam bentuk bulat? Bukan segitiga ataupun kerucut.”Tanya obgyn saya kepada suami, laki-laki yang sangat saya kasihi, di suatu pagi. “Karena Allah penuh kasih sayang, rahim yang bulat akan memeluk janin selama dalam kandungan.”Obgyn saya tersenyum. “Selamat menjalani hari-hari sebagai orang tua. Ini bukan akhir perjalanan. Ini awal perjalanan ya, Bu.”

21 hari yang lalu, Allah Yang Maha Baik mengizinkan saya membantu seorang manusia baru lahir ke dunia dengan lembut, dengan penuh rasa ikhlas dan bahagia. Rasa tidak nyaman yang saya rasakan selama kontraksi saya hargai sebagai tanda bahwa Aina, putri kecil saya yang baik dan lembut hatinya, sedang berjuang menemukan jalan lahir yang sudah Allah Ta’ala siapkan khusus untuknya, di tubuh saya. Hari itu adalah hari perjuangan Aina. Saya, suami dan tim tenaga kesehatan yang sudah saya pilih hanya membantu. Alhamdulillah Allah izinkan.

Miriam Tsakeena Harfan – Aina lahir pada hari Jumat, 07 April 2017 pukul 19.43 WIB.

Aina memilih hari kelahirannya sendiri. Aina pulalah yang menunjuk dengan siapa ia didampingi saat pertama kali menangis di dunia. Saya percaya, Allah Yang Maha Pengasih memberikan izin untuk Aina memilih, membimbingnya untuk masuk ke jalan lahir. Bukankah tanpa bimbingan Allah, kita buta? Ya, selama di rahim, tidak ada sinar maupun panduan untuk berputar. Namun, mengapa akhirnya janin bisa menyesuaikan diri? Memposisikan kepalanya di atas jalan lahir lalu masuk ke panggul, membalikkan punggungnya ke posisi optimal, bergerak keluar dengan bantuan dorongan ibu, belajar menghisap untuk bekalnya nanti di dunia. Allah Maha Berkehendak, bukan? J

Aina mendengarkan permohonan yang saya ajukan dari jauh-jauh hari, saya bilang “Aina, kalau Aina sudah siap keluar, kasih tahu Ibu ya. Kalau bisa saat jalanan kosong karena KMC cukup jauh dari rumah.”Kontraksi mulai saya rasakan dari hari Rabu malam. Awalnya, saya sendiri pun tidak paham jika itulah yang banyak orang bilang dengan ‘mulas kontraksi’. Beberapa orang mendeskripsikannya seperti sakit menjelang haid, sayangnya saya tidak pernah merasa nyeri ketika mau haid. Gagal lah saya memahami mulas kontraksi. Bagi saya, saat itu, rasanya seperti…Ah sudah lupa. Pikiran saya memang tidak dititik-beratkan pada rasa sakit, saya justru bahagia dan bersemangat menyambut Aina. Oh, satu yang saya ingat, saya semakin merasa tidak nyaman di daerah sekitar tulang ekor. Jadi, pada malam itu, saya semakin sering membangunkan suami untuk sekedar mengusap bagian tersebut dan tidak terpikir bahwa itulah kontraksi. Ha. Tertawakan saya.

Kamis paginya adalah jadwal control rutin ke obgyn kami, dr. Achmad Mediana, SpOG. Seperti biasa, suster meminta saya untuk mnimbang berat badan dan mengukur tensi saya. Semua normal. Semua baik. Alhamdulillah. Lalu, suster menanyakan keluhan yang mungkin saya rasakan. Langsung saja saya ceritakan apa yang saya alami di malam sebelumnya. Karena usia kehamilan saya sudah terhitung cukup bulan dan siap lahir (39 minggu, 5 hari), suster menyarankan agar melakukan cek CTG di ruang bersalin. Okelah, saya dan suami turuti.

Itu bukanlah kunjungan pertama kami ke ruang bersalin. Terhitung setidaknya 2x sudah kami mendatangi ruang tersebut. Pertama, hospital tour saat usia kandungan saya 7 bulan. Waktu itu, saya banyak bertanya kepada bidan di ruang bersalin tentang poin-poin yang saya akan tulis di birth plan (saat itu, saya dan suami sedang menyusun birth plan). Setelah memastikan bahwa keinginan saya dapat diakomodasi oleh tim ruang bersalin, saya pun menuangkannya dalam birth plan. Kesan yang saya dapat saat kunjungan pertama adalah bahwa rumah sakit yang saya pilih beserta tenaga medisnya amat sangat mendukung dan memahami gentle birth, prinsip persalinan yang saya terapkan sebagai panduan saat melahirkan Aina. Tim medis menekankan pada kenyamanan ibu dan melihat persalinan sebagai momen sakral dan alamiah, sehingga intervensi medis seminim apapun hanya akan dilakukan apabila sangat sangat sangat diperlukan. Untuk hal ini, lagi-lagi saya bersyukur Allah berikan rezeki untuk berjodoh dengan rumah sakit dan tenaga kesehatan yang super ramah kepada ibu dan anak. Lalu, kunjungan kedua adalah saat saya melakukan CTG untuk pertama kalinya di usia kandungan 7.5 bulan karena saya merasa pergerakan bayi melemah. Alhamdulillah, saat di-CTG, bayi saya justru aktif. Saya nya saja yang tidak merasakan. Huft.

Kembali ke CTG tanggal 7 April siang, hasilnya menunjukkan sudah ada kontraksi yang cukup intens. Bidan pun melakukan cek dalam. Voila!  Sudah pembukaan 3 di pukul 11.30. Alhamdulillah. Suami pun turun untuk mengurus administrasi kamar rawat inap. Saya pribadi, saat itu, masih ingin melanjutkan jalan-jalan ke ITC Kuningan. Hahaha. Sambil menunggu suami, saya video call dengan salah satu sahabat sambal ketawa-ketawa. Oya, saya juga menghubungi doula kami, mengabarkan bahwa kami sudah di RS. Menjelang solat Jumat, obgyn saya datang bersama suami. Begitu tahu bahwa saya ingin jalan-jalan, responnya Cuma “Jauh amat ke ITC Kuningan. Pejaten Village aja gimana? Kalau ke Penvil boleh deh, deket.” Hahaha. Beliau menambahkan “kita observasi 8 jam ya.” Saya balas “Berarti maghrib saya ke sini lagi ya, Dok?” Obgyn saya cengengesan “Mepet banget. Jam 5 deh ya ke sini.” Muehehehe.

Anyways, akhirnya saya memutuskan untuk tetap di RS karena merasa interval kontraksi semakin rapat. Saya dan suami pun berjalan kaki menuju kamar rawat inap. Saya percaya, pada tahap laten ini, gerakan tubuh yang aktif akan membantu janin saya untuk dapat menemukan jalan keluarnya. Dan tubuh saya pun menuntun untuk bergerak secara naluriah. Makanya saya tolak tawaran kursi roda. Why? Saya sehat kok 🙂

Di kamar perawatan, saya hanya berdua dengan suami. Setiap tanda cinta dari janin saya datang (re: kontraksi), saya akan selalu meminta suami saya memeluk dan mengusap bagian tulang ekor – pusat rasa tak nyaman. Selebihnya, saya berjalan ke setiap sudut kamar, bernyanyi-nyanyi, ngobrol dengan suami dan stretching.

Pukul 15.30, doula kami, Mbak Mila, datang. Suami saya pun ‘bertukar’tugas. Saya ditemani Mbak Mila sementara suami saya makan siang sekaligus mengangkut berbagai barang yang belum sempat dikeluarkan dari mobil (suami sudah menyiapkan tas untuk dibawa ke RS beserta asesorisnya dari hari Kamis, saat kami kontrol. Haha). Mbak Mila hadir dengan energi positif tambahan untuk saya. Hari itu, yang saya rasakan adalah cinta dan ketenangan, dari seluruh pihak yang terlibat dalam persalinan saya, dari mulai suami sampai bidan-bidan di RS, tak terkecuali! Alhamdulillah. Hehe.

Di kamar perawatan, Mbak Mila memberi saya essential oil lavender untuk memberikan efek tenang. Memijat, melakukan rebozzo shifting (ini merupakan salah satu teknik spinning babies  yang dapat membantu janin ke posisi terbaik untuk lahir), mengusap kepala, memberikan afirmasi, semua dilakukan Mbak Mila. Sampai pada pukul 16.00, saya minta bidan untuk meakukan cek dalam lagi. Alhamdulillah hasilnya sudah pembukaan 6 dan saya disarankan untuk pindah lagi ke kamar bersalin. Yes!

Suami saya yang saat itu masih solat ashar menyusul kemudian ke ruang bersalin, membawa mini speaker. Yap, saya membawa itu ke ruang bersalin untuk menyuarakan murottal, menemani saya bersalin. Hehehe.

Apakah saya takut dan tegang? Tidak, alhamdulillah. Sama sekali tidak! Yang ada hanyalah perasaan tenang dan yakin bahwa sebentar lagi saya akan bertemu bayi saya dan dia akan membantu saya. Of course! Hari itu adalah harinya, hari perjuangannya keluar dari rahim.

Selama di ruang bersalin sambil menunggu naiknya pembukaan, saya paling suka melakukan ideomotor. Teknik relaksasi ideomotor ini adalah gerakan tangan seperti tai chi yang dilakukan saat kontraksi datang. Fungsinya adalah mengalihkan rasa tidak nyaman ke gerakan tangan. Salah satu hal yang saya pelajari di kelas Hypnobirthing dengan Ibu Lanny Kuswandi. It worked! Saya juga duduk di gymball sambal bergerak aktif untuk membuka panggul sambal dipijit bergantian oleh suami dan Mbak Mila. PUkul 17.30, kali terakhir saya melihat jam dinding. Saya minta bidan cek dalam lagi karena sudah ingin mengejan. Alhamdulillahirabbil alamin, pembukaan 9 menuju ke 10 yang diikuti oleh pecahnya ketuban saya.

Dengan lengkapnya pembukaan, saya sudah dipersilakan mengedan. It was the longest 2hours (or so) I my life. Even it beats my thesis defense presentation back in early 2012. Hahaha. Bukan karena rasa tidak nyaman tapi karena saya sudah ingiiiin sekali menatap bayi yang selama 30 minggu lebih 5 hari menginap di rahim ini. Selama proses mengejan, saya mencoba berbagai posisi seperti miring dan jongkok. Alhamdulillah kesampaian merasakan bersalin jongkok, padahal saat diskusi tempo hari, obgyn saya sempat agak reluctant  saat saya mengatakan bahwa saya ingin bersalin jongkok. Hahaha. Suami dan Mbak Mila selalu berada di sekeliling saya. Suami saya yang mendekap saat saya bersalin jongkok, membimbing saya bernapas. Saya sangat bersyukur didampingi oleh suami yang mengerti harus bagaimana saat mendampingi saya bersalin dan jauh dari panik. Di sisi lain, Mbak Mila menyuapi saya dengan kurma dan madu setiap setelah mengedan.  Yea, you can still devour your favorite snacks during labour to boost your energy!

IMG_8267
Mu husband hugged me when i was squatting, trying to push the baby
IMG_8270
Salah satu berkah Allah di dunia, suami yang mengerti harus melakukan apa saat menjadi pendamping persalinan istri dan gak panikan. Hehehe.

Akhirnya, putri mungil saya, Aina, memutuskan untuk check out from her mummy’s tummy pada 19.43 WIB, dengan sapaan “Assalamualaikum, Aina”. No words could describe how blessed I felt. I failed to write how happy I was, holding my daughter for the very first time.

Jauh hari sebelum hari Jumat tanggal 7 April 2017 datang, saya tahu, Aina akan memilih itu sebagai hari terbaiknya. Kenapa? Karena itulah yang dia sampaikan kepada saya di usia kehamilan 38 minggu. Aina, anak perempuan saya yang sudah saya ajak bicara sejak pertama kali tahu mengandung, selalu menyampaikan ‘suara’nya melalui hati ini. Iya, selama hamil, kami terhubung oleh jaringan yang sama. Saya percaya, dia mampu mendengar dan berbicara kepada saya. Lewat hati ini, atas izin Allah Ta’ala. Selama hamil, setiap hari Jumat, saya selalu mengatakan kepada janin saya “hari Jumat adalah hari baik”. Maka, Aina pun memilihnya. Masya Allah 🙂

Jika ada yang bertanya bagaimana rasanya kontraksi, mohon maaf, saya lupa. Pikiran saya saat itu tidak terpusat kepada rasa tak nyaman yang dirasakan. Alih-alih, saya sangat bergembira menantikan Aina lahir.

Persalinan saya memang hanya terjadi dalam 9 jam di hari yang sama. Namun, persiapannya melampaui itu. Saya, suami dan Aina (yang waktu itu masih di perut saya) belajar bersama. Berusaha pula untuk mendapatkan ilmu dan bertemu orang-orang baik seiring perjalanan kehamilan saya.

Butuh waktu untuk memahami setiap proses dalam kehamilan hingga persalinan. Demikian halnya pula dengan persiapan persalinan. Percayalah bawa segala usaha yang ibu hamil lakukan seama mengandung akan terbayar, akan membantu saat bersalin selama dilakukan dengan tulus dan ikhlas 🙂

Saya merasa amat sangat disayang oleh Allah Ta’ala karena dapat merasakan bersalin secara lembut atau yang umum dikenal dengan gentle birth. Menurut saya, gentle birth yang sejatinya adalah prinsip bersalin dapat diaplikasikan oleh siapa saja dengan cara bersalin apapun. Gentle birth bukan water birth, bukan pula lotus birth. Ibu yang melahirkan dengan cara sectio caesaria pun mampu bersalin secara gentle birth selama ibu, pendamping dan tenaga kesehatan paham bahwa gentle birth adalah filosofi yang berpihak kepada ibu dan janin, yang memandang persalinan sebagai peristiwa alamiah yang sudah digariskan Tuhan maka harus ditangani dengan lembut. Kembali lagi, kuncinya adalah persiapan dan keikhlasan.

Aina dan saya berbagi kisah kelahirannya semata-mata untuk menyebarluaskan bahwa persalinan bukanlah hal yang harus ditakuti, ‘tidak menyakitkan’, dan bahwa persalinan itu luar biasa indah.

Untuk ibu hamil yang sedang membaca ini, saya dan Aina doakan agar hatimu selalu dipenuhi dengan cinta dan keikhlasan sampai akhirnya nanti, pada saat yang tepat, akan melahirkan dengan penuh kasih sayang dan kebahagiaan.

edited 1
Our first family portrait

Salam dari saya dan Aina.

Wassalamualaikum warrahmatullahi wabaraktuh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s