Uncategorized

Bukan Sekadar ASI

Tulisan ini saya tujukan untuk seluruh ibu yang membaca. Terlepas dari bagaimana dan seperti apa latar belakang dan kehidupan, memilih menjadi ibu adalah sama dengan mengemban misi dunia dan akhirat. Menjadi ibu, karir seumur hidup.

 

Tulisan ini, juga saya buat untuk suami saya. Pendukung terbaik saat saya merangkap peran sebagai perempuan, anak, istri, ibu dan bagian dari masyarakat.

“…dan tidak satupun makhluk bergerak di bumi melainkan Allah jamin rezekinya.”

Surat Hud, ayat 6.

Hampir 4 bulan sudah saya menjalani karir seumur hidup, menjadi Ibu. Mengawali perjalanan saat hamil, saya tahu, profesi yang saya pilih ini tidaklah mudah. Semakin tua usia kehamilan, semakin giat pula saya belajar. Memang tidak ada panduan absolut tentang menjadi ibu. Sosok ibu ideal yang digambarkan dalam banyak buku parenting maupun figur publik tidak lagi menjadi ideal ketika saya, sebagai manusia, mengakui perbedaan situasi, kondisi, dan keterbatasan. Mengakui perbedaan karakter  sehingga baik ibu, ayah dan anak tidak dapat dibandingkan secara apple to apple dengan keluarga lain.

 

Menikmati waktu demi waktu mengasihi, suka dukanya mengasuh, semangat dan lelahnya mendidik anak, pada akhirnya saya sadar, diktat terbaik saya adalah Al Quran dan pembina terlembut adalah hati nurani sendiri.

 

Quran menyinggung perihal menyusui selama 2 tahun pada surat Al Baqoroh ayat 233, ribuan tahun sebelum World Health Organization mengkampanyekan anjuran menyusui. Dalam perkembangannya, ilmu pengetahuan membuktikan berbagai manfaat air susu ibu (ASI) untuk kesehatan fisik anak dan besarnya sumbangan positif dari aktivitas menyusui kepada perkembangan emosional anak.

Dampaknya, semakin banyak ibu yang berupaya sekuat tenaga untuk menyusui bayi-bayinya, termasuk saya.

 

Di usia kandungan 8 bulan, saya mendatangi konsultan laktasi dan mulai membaca literatur tentang ASI. Konsultasi rutin sampai akhirnya saya melahirkan. Saat itu, banyak sudah teori-teori seputar ASI dan menyusui yang ada di kepala. Tak sedikit orang yang bertanya kenapa saya begitu ngototnya belajar tentang menyusui. Jawabannya sederhana, karena saya dan suami tidak tahu apa-apa. Menyusui yang seharusnya menjadi hal alamiah naluriah menjadi hal sulit ketika dihadapkan dengan kenyataan bahwa manusia hidup dikelilingi oleh pro dan kontra.

 

Setelah bayi saya lahir, semakin kuat tekad saya dan suami untuk memberi ASI sampai usianya 2 tahun nanti. Saya pernah mengalami baby blues, putting lecet saat bayi baru belajar pelekata, pernah pula kebingungan menghadapi overactive let down, pernah menangis haru saat melihat tetes pertama ASI saya, pernah sedih ketika melihat hasil pompa yang sangat sangat sedikit, pernah bangun tengah malam untuk memompa demi stok ASI, pernah memompa di mobil agar sesi memompa tidak terlewat. Meski baru 4bulan saya menyusui, saya akui, setiap tetes ASI adalah perjuangan.

 

Dari awal kehamilan sampai bayi lahir, saya ngotot tentang ASI.

 

Namun ada hal lain yang saya ternyata saya lupakan. Adalah menyusui yang menjadi poin utama dalam Al Quran, air susu adalah produknya. Keseluruhan aktivitas menyusui lah yang Allah serukan. Allah Maha Baik, Allah perintahkan hal yang bermanfaat baik untuk ibu dan bayi.

 

Bayi belajar mengenal kasih sayang dari pelukan dan sentuhan tangan ibu saat menyusui sehingga kelak, dia akan hidup sebagai manusia dewasa yang memiliki welas asih dan kepercayaan diri. Bayi belajar mengenal aroma ibu saat berada dalam dekapan ketika menyusu sehingga meskipun dengan kemampuan melihat yang belum sempurna, bayi baru lahir mampu merasa aman ketika ia tahu ibunya ada, lewat penciumannya. Pelajaran sensori dan motorik pertamanya adalah saat telapak tangannya menyentuh kulit dada ibu ketika menyusu. Tempat favoritnya adalah dekapan yang membawanya dekat dengan jantung sehingga dia masih bisa mendengar langsung ritme kesayangannya, detak jantung ibu. Pemandangan terindah untuknya adalah wajah ibu ketika melihat bayi lekat-lekat. Menyusu adalah dunianya. Sementara untuk ibu, salah satu manfaat yang didapat dari menyusui dapat mempercepat pemulihan pasca persalinanan.

 

Sadar bahwa ada kesalahpahaman dalan pola pikir, saya dan suami akhirnya berkesimpulan bahwa aktivitas menyusuilah yang ditekankan. Saya tak lagi ngotot harus punya stok puluhan kantung asip di lemari pendingin tapi lebih bersemangat dan menanti-nantikan sesi menyusui.

 

Menyusu menjadi sesi pribadi antara saya dan bayi atau saya, bayi dan suami. Kami berkomunikasi intim, bercanda dan belajar untuk lebih mengenal satu sama lain. Allah Maha Penyayang, saya diizinkan untuk bertemu dengan laki-laki yang mau belajar dan sangat mendukung saya menyusui.

 

Semakin banyak waktu yang kami bertiga lewati, semakin kecil juga kami merasa karena ternyata Allah titipkan pelajaran hidup di setiap harinya. Saya sadar bahwa menyusu adalah hak bayi. Dan ternyata, juga rezeki bayi, yang Allah jamin.

Selama di kandungan, bayi, melalui tali pusat, terhubung ke plasenta yang menjadi bank makanan dan oksigen untuknya. Setelah lahir, Allah titipkan rezekinya melalui kedua orang tuanya, terutama lewat ibunya. Menyusui lah yang kemudian diserukan oleh Allah Ta’Ala.

 

Suami dan banyak orang pernah bilang bahwa meskipun Allah menjamin rezeki manusia, kita tetap harus berusaha untuk meraihnya. Saya pribadi akhirnya berpikir sama terhadap menyusui. Rezeki yang bukan berupa materiil dan tidak bisa dihargai nominal nya ini harus diperjuangkan. Dalam perjuangan ini, ibu tidak sendiri. Ada ayah dan tentunya bayi yang juga berusaha. Buktinya, bayi belajar melekat, menghisap payudara ibunya, melatih rahangnya untuk mnghisap yang nantinya juga berguna saat bayi belajar mengunyah makanan. Tangisan bayi juga saya hargai sebagai salah satu bentuk usahanya menjemput rezeki yang Allah janjikan untuknya. Tangisan yang ibu artikan sebagai rasa lapar dan haus akan membawa ibu ke aktivitas menyusui. Allah Maha Mengetahui ya.

 

Menyusui selama 2 tahun menjadi cita-cita kebanyakan ibu. Tapi karir ibu tidak berhenti di sana.

Saya setuju dengan konsep tarbiyah alias pendidikan di rumah di mana guru pertama anak adalah ibunya sendiri. Beberapa hari lalu saya sempat diskusi ringan dengan sahabat saya sewaktu kuliah. Dia bilang, menjadi orang tua dan memberikan pendidikan di rumah adalah hal paling nyata yang bisa seseorang lakukan untuk kehidupan bermasyarakat yang lebih baik. Lagi-lagi, saya juga setuju dengan pendapatnya. Kembali saya ulang, menjadi orang tua, menjadi ayah dan ibu adalah pekerjaan dengan tanggung jawab besar. Menjadi apa dan bagaimana anak kita nanti mulai dimulai sedini mungkin. Membantu anak mengeluarkan potensi terbesarnya dan mendampinginya membentuk karakter seumur hidup tentu tidak mudah. Cita-cita saya satu, menyiapkan anak saya agar suatu saat nanti dia kembali ke masyarakat, dia dapat menjadi manusia yang bertanggung jawab, setidaknya kepada dirinya sendiri.

 

Melahirkan, menyusui, mengasihi, merawat, membesarkan dan mendidik adalah paket lengkap yang bisa seorang ibu tawarkan kepada anaknya. Oleh karena itu, saya pribadi mengucapkan terima kasih kepada para ibu yang menyadari perannya dan dengan berani mengambil tugas tersebut, kepada para ayah yang senantiasa menjadi kapten keluarga, menjadi teman terbaik istrinya dan anaknya, dan kepada bayi-bayi baik nan pintar yang sudah memilih ayah dan ibu menjadi orangtuanya. Setiap dari kalian adalah pejuang.

 

Salam menyusui dengan penuh kasih dari saya.

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Bukan Sekadar ASI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s