A bit about A · Bahasa Indonesia · life · Pregnancy

Assalamualaikum, Aina

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh. Semoga berkah dan perlindungan Allah menyertaimu. Selamat memperingati Hari Lahir Kartini. Semoga perjuangannya untuk perempuan Indonesia menjadi amal jariyah untuk beliau. Di bulan kelahiran Kartini ini, saya ingin menulis sebuah pengalaman alamiah yang luar biasa indahnya. Pengalaman yang hanya bisa dinikmati perempuan. Pengalaman tentang kekuatan, kepercayaan diri, berserah, bersyukur. Tentang salah satu dari… Continue reading Assalamualaikum, Aina

Bahasa Indonesia · life · Pregnancy

Berbicara dengan plasenta – A’s first roommate

Assalamualaikum! Di banyak artikel dan kelas penyuluhan seputar kehamilan disampaikan bahwa menjalin komunikasi dengan janin merupakan sarana untuk membentuk hubungan kuat antara ibu dan anak. Tentu teman-teman yang sudah pernah dan sedang hamil merasakan betapa menyenangkannya ngobrol dengan janin, kan? 👶🏻 Apalagi jika kata-kata kita terbalas dengan tendangan, pukulan, pergeseran punggung, balik badan atau ngulet… Continue reading Berbicara dengan plasenta – A’s first roommate

Bahasa Indonesia · My 2 Cents · Self-Reflection

Just another late post

18 Ramadhan 1437 H Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh Tuhan Maha Baik. Itulah yang ayah saya selalu ingatkan, bahwa Allah Maha Baik dan berkhusnudzan lah kepada-Nya. Bukankah Allah sesuai dengan prasangka kita? Dan bahwa Allah selalu menjawab doa-doa hambaNya yang dhaif ini, benar juga adanya. Bahkan dengan melihat apa yang saya miliki, apa yang terjadi, apa yang… Continue reading Just another late post

Bahasa Indonesia · My 2 Cents · Self-Reflection

Embracing September

31 Agustus 2015

Assalamualaikum,

Rasanya baru kemarin ya saya menyambut Ramadhan, sekarang September sudah di depan pintu. Klise memang, tapi toh setiap minggu adalah pengulangan dan setiap bulan merupakan repetisi nama, hanya angka tahun yang bertambah.

Dua minggu lalu saya mulai berpikir untuk mencanangkan Garis Besar Haluan Hidup Bulanan per September ini. Tentu tidak semegah GBHN produksi era kejayaan Bapak Soeharto tapi seharusnya cukup untuk membuat perbedaan di diri saya setiap bulan. Isinya tidak lepas dari apa yang harus saya lakukan dan apa yang harus saya capai. Ada poin yang merupakan pencapaian jangka pendek yang artinya selesai di bulan berjalan namun ada juga yang sifatnya berkesinambungan. Nah, yang kedua ini idealnya akan menjadi kebiasaan baru jika setelah saya evaluasi nanti membawa dampak positif bagi saya dan sekeliling.

Sedikit saya bisa bagi. Dua di antara daftar panjang saya adalah membaca 1 buku bagus (menurut penilaian saya) setiap minggu dan be more productive. Sering saya berpikir, apa sih yang saya bisa hasilkan dari kapasitas saya sebagai blablabla dan peran saya sebagai X, Y, Z? Kalau produktivitas petani diukur dari hasil panennya dan pelukis dinilai dari banyaknya lukisan yang dihasilkan setiap tahun, kira-kira indikator produktivitas saya apa ya?

Biasanya, sejurus kemudian saya akan menagih outcome dari diri sendiri atas apa yang sudah saya serap. Berkali-kali saya yakini bahwa dunia dan isinya ini adalah taman bermain dan belajar yang memberikan pelajaran tak terhitung banyaknya. Tapi, apa yang bisa saya berikan kembali dari setiap hal yang saya terima, terlepas dari yang terberikan (ascribed) maupun tercapai (achieved)? Meskipun banyak orang, termasuk saya, percaya bahwa keadilan agak menjadi seperti cita-cita utopis di dunia ini, tapi rasanya ya kok ga adil saja kalau saya menerima banyak tapi belum memberi kembali.

Maka, poin untuk lebih produktif ini sengaja saya tempelkan di poin-poin lainnya agar basis pencapaian saya nanti bersifat giving back. Contohnya di rencana untuk membaca 1 buku per minggu. Ini adalah income untuk kepala saya. Nutrisi untuk otak, katakanlah begitu. Outcome nya, saya mewajibkan diri untuk menulis lebih banyak. Dengan demikian, sirkulasi ide dan pemikiran di otak saya yang besarnya gak seberapa ini jadi lebih lancar. Setidaknya saya harus mampu membuat 1 tulisan per minggu. Saya pikir hal ini tidaklah mustahil dan cukup stratejik karena ya mudahnya, saya tinggal menulis resensi buku yang saya baca saja. Culas juga. Let see how it works. Saya harap nantinya jumlah dan kualitas tulisan akan bertambah terlepas dari berapapun bacaan saya.

Mencoba menjadi lebih produktif juga saya rencanakan agar dapat sejalan dengan hal yang saya suka. Jelas dong, karena dengan begitu, perjalanan akan lebih (terasa) mudah dan (harusnya) menyenangkan, bukan?

Belakangan saya menaruh perhatian lebih pada dunia pangan, khususnya yang berbasis tumbuhan. Entah sudah berapa juta menit saya habiskan untuk membaca, mencari informasi (teman dekat saya lebih suka melabelnya dengan kata research), menonton, mendengar, melihat foto (ini harus diikutsertakan karena c’mon, Instagram plays an important role. Thanks IG!) dan berdiskusi tentang beberapa hal berikut (you can take it for your online search terms. Brace yourself, you’re gonna find abundant of it!):

Plant-based
Raw food
Alkaline foods
Anti-inflammatory
 Gluten
Celiac disease
 GERD
Lactose intolerant
Food combining
Child nutrition
Micronutrients
 Pangan lokal
Egg-free and dairy-free
 GMO
 Ketahanan pangan
 Sayur organik

Dan banyaaaak lagi. Sehubungan dengan itu, saya banyak mengumpulkan resep bahkan ikut kelas mengolah bahan makanan (saya sebut demikian karena sebagian besar resepnya tidak menginstrukskan adanya pemanasan alias proses memasak alias raw food – makanan yang diolah dengan suhu di bawah 45 derajat celcius masih dikategorikan raw food. Gak relevan kalau saya sebut “kelas memasak”). Jadi, rencana saya adalah saya harus mempraktekan setidaknya 1 resep setiap minggu.

Sederhana ya. Namun kalau ditinjau lebih lanjut, dua contoh diatas akan melatih saya agar lebih disiplin dan berkomitmen dengan diri sendiri. Iyalah, kalau gak bisa committed dengan diri sendiri gimana mau punya komitmen dengan pihak lain? Logikanya begitu. Sama seperti prinsip saya lainnya, if I do not know me, I cannot decide my positioning among others. Kalau ga bisa bergaul dan ga bisa mengenal diri sendiri, gimana bisa menempatkan diri saat berinteraksi dengan orang lan? Kalau saya tersinggung dan I don’t know how to handle myself in front of others, I’ll be doomed.

Selain itu, dua hal tersebut juga harusnya bisa memaksa saya untuk lebih pandai mengatur waktu. Setiap Senin-Jumat otomatis saya akan berada di luar rumah lebih dari 12 jam (terima kasih pada kemacetan Jakarta beserta klien-klien yang kadang menganggap saya tuhan karena “i want it now!”, atau “i need you to expedite the checks” yang padahal request nya baru masuk sehari lalu, begitulah. Mungkin dia lupa, Bandung Bondowoso aja bikin Candi Prambanan butuh waktu 24jam dengan bantuan jin dan semesta diciptakan dalam waktu 7 hari, lah ini manusia minta kurang dari 24jam. Ah sudahlah, namanya juga manusia. Saya juga manusia sih) dan di akhir pekan biasanya pergi ataupun memilih istirahat di rumah. Untuk bisa praktek di dapur, saya mesti pintar mengalokasi dan mengkalkukasi waktu.

Mudah-mudahan Allah Yang Maha Mengatur mengizinkan dan semoga rencana saya ini sesuai dengan skenarioNya. Semoga berkah.

Sebenarnya, tujuan saya sudah mengerucut. Ingin terus berkembang dan bermanfaat, jadi berkah untuk sesama. Berkembang itu penting loh (termasuk berkembangbiak, kalau seluruh manusia di muka bumi ini sudah tidak lagi berpikir untuk bereproduksi, saya rasa mudah sekali memprediksi kepunahan kita bersama. Tapi jangan lupa, yang satu ini baru dapat dilakukan setelah dilegalisasi ke dalam institusi sosial bernama pernikahan. Jadi ya saya senang-senang saja tuh kalau denger orang sudah pengen banget menikah) karena bagi saya ini salah satu upaya mensyukuri rahmat Allah SWT.

Dan yang kedua adalah menjadi bermanfaat serta berkah. Sudah sering kan membaca dan mendengar “sebaik-baiknya manusia adalah dia yang paling bermanfaat bagi sesamanya”? Saya rasa ini bisa jadi cita-cita universal. Teman dan keluarga saya juga sering kali bilang bahwa ada sebagian rezeki orang lain yang dititipkan pada kami maka kami harus terus berbagi. Saya percaya logikanya sama dengan berkah, boleh jadi kamu adalah berkah untuk orang yang duduk di sebelahmu di bus setelah kamu bergeser ke pojok. Bisa jadi kamu adalah berkah bagi orang yang gak sengaja kamu tabrak saat lari di peron stasiun karena dengan begitu dia ga jatuh ke lubang yang sebelumnya dia gak lihat. Dan siapa tahu kamu jadi berkah buat orang banyak hanya dengan menginjak puntung rokok yang belum mati sempurna di trotoar.

Satu hal yang saya ingat lekat-lekat, saya meminta berkah maka saya harus jadi berkah untuk orang lain. Terus aja berbuat baik karena kita gak pernah tahu bagaimana Tuhan akhirnya meneruskan mata rantai kebaikan itu dalam rahmatNya di dunia ini. Sama kayak kita yang gak akan pernah tahu, kapan waktunya kita pulang ke Yang Maha Baik. Jadi, selagi bisa, why not? 🙂

Wassalamuailakum.

-DR

Bahasa Indonesia · School

Langkah-Langkah Mendaftar ke Universitas di Luar Negeri

Assalamualaikum. Selamat Tahun Baru 2015! Semoga Tuhan memberkahi kita di sepanjang hidup. Di tulisan saya sebelumnya, saya sampaikan bahwa saya akan membagi pengalaman mengenai proses pendaftaran ke universitas di luar negeri. Meskipun hal ini terdengar sepele dan bisa dilakukan hanya dengan mengikuti instruksi di situs masing-masing kampus, saya rasa tidak semua paham dengan langkah-langkahnya. Yaaa… Continue reading Langkah-Langkah Mendaftar ke Universitas di Luar Negeri

Bahasa Indonesia · Self-Reflection

Kaleidoskop 2014

Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum. Tahun 2015 sudah di depan mata. Kalian sudah punya resolusi tahun baru? Kalau sudah, selamat menjalankan ya. Sementara bagi yang belum atau bahkan tidak punya resolusi tahun baru, ya enggak apa-apa toh. Saya pribadi juga bukan orang yang rutin membuat resolusi tahun baru karena untuk saya, resolusi bisa dibuat kapan saja. Tapi, mungkin… Continue reading Kaleidoskop 2014